(PERTEMUAN KE 219) IRONI DISEKITAR IBADAH HAJI

Sebelum saya berangkat haji, aku dipesenin oleh orang yang saya hormati, tata lah hati dan niatmu sebelum menunaikan ibadah haji. Karena ibadah haji, selain berbekal fisik yang kuat juga harus berbekal niat yang lurus. Hindarkan perilaku dan tindakan yang dapat merusak kesucian perjalanan ibadah. Begitu pesan moral yang disampaikan.



Yap, pesan-pesan itu sangat aku perhatikan. Aku sadar, perjalanan nan jauh disana dengan segala pengorbananku, jangan sampai sia-sia karena niat dan perilaku yang salah. Beberapa hari sebelum keberangkatan, hatiku begitu berdegup kencang. Disamping karena harus meninggalkan orang-orang tercinta, juga terbayang rangkaian ibadah umrah dan haji yang harus dikerjakan jangan sampai salah. Apalagi berbau takhayyul dan khurafat. Karena orang Arab sangat anti kedua hal tersebut!



Umat Islam Arab memang mayoritas penganut Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal atau biasa disebut Mazhab Hanbali. Mereka terkenal menganut paham akidah yang tegas, meskipun kadang mereka terlihat kaku dan kesannya kurang toleran terhadap paham yang berbeda. Di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi sering kedengaran orang Arab teriak-teriak dengan kalimat: hajji hajji, haram haram, atau hajji hajji, ruh ruh… Mereka sering reaktif ketika ada orang yang dianggap menyimpang. Padahal sech belum tentu juga tuh!



Sebagai misal, ketika ada orang berdoa bersama dengan suara agak keras, sering ditegur oleh orang Arab, dengan: Haram haram! Padahal menurut kita kan biasa saja, seperti doa dan dzikirnya jamaah ustadz Arifin Ilham bukan? Apalagi jarang-jarang berdoa di depan Ka’bah gitu loh! Sementara menurut orang Arab dianggap sebagai bid’ah. Bagi mereka, berdoa itu sebaiknya pelan dengan peresapan yang dalam.



Memang sih, disamping nggak ngeganggu orang lain, juga bisa khusyuk. Aku sih setuju aja….Tapi kan seharusnya orang Arab nggak main larang orang berdoa begitu aja dong! Selama substansi doanya benar, why not gitu loh! Begitu menurut kita. Apalagi yang namanya orang berdoa kadang sangat ekspresif, saking terharunya dan tak terasa mengeluarkan suara keras. Runyemnya, pada saat asyik-asyiknya berdoa, tiba-tiba ada orang Arab bilang, hajji, hajji, haram haram! Maksud lo? Jengkel sih rasanya. Dalam hati dongkol dan bergumam, idihhh, kenapa sih itu orang? Lagi asyik-asyik berdoa, main haram-haram aja! Kayak sorga milik dia aja! Eiitt… Lagi haji lho, jangan mudah mengumpat orang ya….



Ok, fenomena sedikit-sedikit haram, haram kok cuma sedikit (meminjam istilah Isa Marsyanda Newsdotcom) disana itu biasa. Entah di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Bahkan mungkin anda akan mengalami teguran-teguran dari orang Arab di lain masalah dan lain tempat. Tapi kalau boleh aku sarankan, kita harus bersikap wajar saja. Karena di sana umat Islamnya mayoritas berpaham Wahabi. Cara pandang akidah mereka cukup keras dibandingkan dengan kita. Apa-apa yang dianggap tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dianggap bid’ah yang haram dilakukan. Namun, selama apa yang kita lakukan ada dasar yang membolehkan, nggak usah takut dan khawatir dengan orang Arab.



Kalau aku amati, sebenarnya perilaku orang-orang non Arab selain kita, seperti Pakistan, Bangladesh, India dan lainnya lebih parah. Bahkan perilaku dan tindakannya sudah mengarah kepada tindakan bid’ah, takhayyul dan khurafat. Oo, serammmm! Gimana hajinya kalau disama berbuat khurafat alias perbuatan yang bernuansa syirik! na’udzubika min dzalik. Aku bilang jangan sampai terjadi dan hindari jauh-jauh ya! Sayang kan, bayar biaya haji mahal-mahal kalau sampai sana ternyata melakukan tindakan syirik.



Sebelum berhaji, aku beranggapan bahwa di tanah suci nggak bakalan ada tindak takhayyul, khurafat atau bid’ah. Karena di sana terkenal dengan gerakan anti perbuatan itu dengan ideologi Wahabi-nya. Tapi setelah aku lihat dengan mata kepala sendiri, ternyata di sana perbuatan-perbuatan yang bernuansa syirik sangat mencolok terjadi, meskipun bukan orang Arab lokal yang melakukan. Bahkan perbuatan itu terjadi di sekitar Ka’bah. Ketiga perbuatan tersebut terlihat seperti:



1. Merajuk-rajuk di depan Ka’bah



Ka’bah sebenarnya hanya bangunan simbolik yang dimuliakan. Ya, ia simbol pemersatu umat sebagai arah kiblat umat muslim sejagat dan sebagai titik kisaran orang bertawaf. Tidak ada keanehan dan keajaiban yang luar biasa di sana. Di dalamnya pun tidak ada apa-apanya, hanya berupa ruang kosong Dia dibangun berupa tembok persegi empat yang terbuat dari batu-batu besar berwarna kebiru-biruan yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Mekah (Iwan Gayo, 2006).



Menurut sejarahnya, Ka’bah merupakan bangunan pertama di atas bumi yang digunakan untuk menyembah Allah. Namun, banyak orang yang telah berlebihan melihat, menempatkan dan mempercayai Ka’bah. Kita shalat menghadap kiblat itu bukan karena menyembah batu itu, tapi hanya untuk mempersatukan umat Islam, sedangkan yang disembah tetap Allah Yang Maha Kuasa. Seperti orang-orang Pakistan, Bangladesh, India dan lain-lain, banyak yang berlebihan ketika mereka berada di depan Ka’bah. Ada yang merajuk-rajuk sambil garuk-garuk dinding Ka’bah, ada yang ngusap-ngusap dengan sajadah dan sorban, ada yang nangis-nangis sambil menempelkan pipi seperti merangkul-rangkul. Bahkan ada orang yang dengan sengaja menggunting kain penutup Ka’bah (kiswah) dengan gunting… astaghfirullah, untuk apa? Pokoknya aneh-aneh deh perilaku mereka.



Menurut pengamatnku, perilaku mereka sepertinya telah mengarah pada perbuatan takhayyul, khurafat dan bid’ah. Karena memang apa yang mereka lakukan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Bahkan mungkin mereka bisa dibilang telah melakukan perbuatan syirik. Sebenarnya petugas syariah dan Asykar di sekitar Masjidil Haram sering mengingatkan mereka dan sering mengusir mereka agar tidak seperti itu. Tapi kayaknya susah mencegah mereka, karena manusia datang silih berganti.



Tindakan yang menurutku kebangetan itu, kok ada ya orang yang dengan sengaja menggunting kain kiswah. Bahkan dibalik kiswah banyak tempelan photo-photo orang Indonesia. Maksudnya apa? Bisa ngasih peruntungan? Huh, ada-ada saja! Konon, potongan kiswah itu untuk jimat kalau nanti mereka pulang ke negerinya. Makanya, tutup Ka’bah lebih sering digulung hingga orang sulit untuk menjangkau agar tidak ada yang menyalahgunakan. Tapi ada juga yang nekad dan lebih sadis lagi, gantungan untuk pegangan Asykar penjaga Hajar Aswad yang bahannya terbuat dari kain, tidak lepas juga digunting… ya Tuhan, mereka sebenarnya maunya apa sih! Keterlaluan amat! Aneh deh pokoknya.



2. Mengagungkan Hajar Aswad berlebihan



Dalam bab sebelumnya sudah kusinggung bagaimana hiruk pikuknya orang yang akan mencium Hajar Aswad. Nabi sebenarnya hanya menganjurkan saja, jika memungkinkan ciumlah Hajar Aswad, tetapi jika tidak memungkinkan, maka lakukan dengan isyarat tangan.



Mungkin karena Hajar Aswad diyakini sebagai batu yang berasal dari sorga, sehingga banyak orang yang memaksakan diri untuk menciumnya, meskipun kadang sangat membahayakan keselamatan dirinya. Kadang orang lebih mengutamakan mencium Hajar aswad daripada meneruskan rangkaian ibadah umrahnya pada saat padat untuk melakukan sai dan tahallul.



Sering kita dengar pertanyaan pertama kali kepada orang yang baru pulang haji dengan; berapa kali cium Hajar aswad? Pertanyaannya sih tidak salah. Tapi pertanyaan itu bisa dijadikan kesimpulan bahwa banyak orang yang berlebihan dalam mengagungkan Hajar Aswad. Bahkan ada orang yang memiliki keyakinan, kalau bisa cium hajar Aswad dalam jumlah tertentu akan mendapatkan apa atau keyakinan lain yang tidak pernah diajarkan oleh Rasullah. Aduh, lagi-lagi kita memang harus banyak belajar, supaya haji kita benar-benar mabrur!



3. Mengumpulkan kerikil



Ini juga cerita yang aneh bin ajaib! Ada orang yang hobbinya mengumpulkan batu kerikil dari setiap tempat yang menjadi bagian dari rangkaian ibadah umrah dan haji. Misal, ketika mengambil start (miqat) umrah di Bir Ali Madinah, dia ambil kerikil satu. Ketika sampai di depan pondokan di Mekah ambil satu. Ketika sampai di Masjidil Haram ambil kerikil satu. Ketika sampai di Arafah ambil kerikil satu. Katika sampai di Muzdalifah ambil kerikil satu. Ketika di Mina ambil kerikil satu. Ketika di jamarat ambil kerikil satu. Nah kalu sudah ngumpul sesuai dengan rencana akan dibawa pulang untuk jimat. Dezix! Lagi-lagi jimat! Mau jadi haji atau mau buka praktek dukun?



Contoh kasus itu konon ada kejadian yang menyedihkan. Orang yang mengumpulkan batu kerikil dari tanah suci, sesampainya di tanah air sakit yang tidak diketahui penyakitnya apa. Dia seperti hilang ingatan dan tidak memiliki kendali emosi yang normal. Ketika dibawa ke dokter tidak ada indikasi penyakit yang jelas. Usut punya usut, ternyata dia pernah mengumpulkan kerikil dari tanah suci untuk tujuan jimat! Sekali lagi jimat! Nah, atas saran seorang kyai, agar kerikil yang telah dijadikan jimat itu segera dikembalikan dengan menitipkan orang yang lagi umrah. Kalau nitip orang yang berhaji, berarti nunggu setahun lagi, yang berarti gilanya setahun dulu! Akhirnya, setelah kerikil itu dikembalikan, yang bersangkutan pulih kembali seperti semula. Ada ada aja!



Ini kasus benar-benar terjadi lho, jadi bukan karangan ceritaku yang nggak ada guna. Ya, itung-itung sebagai pelajaran buat kita agar kita lebih hati-hati lagi bersikap ketika di tanah suci. Sikap kehati-hatian sangat diperlukan untuk menjaga niat dan amalan agar tetap berpahala sekaligus berhikmah dalam hidup kita. Tul nggak?



4. Takhayyul pada air zam-zam



Semua orang tahu, air zam-zam itu adalah air yang penuh dengan berkah. Bisa untuk menghilangkan haus sekaligus bisa untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Nabi bersabda yang intinya: air zam-zam bisa bermanfaat sesuai dengan keinginan apa yang diinginkan oleh peminumnya, untuk menghilangkan haus bisa, untuk menjadikan perut kenyang bisa, bahkan untuk menyembuhkan penyakit sekalipun bisa, tergantung niat dan kesungguhan doa yang dipanjatkan.



Nah, mungkin juga karena klhasiat itu pula, sehingga ada juga orang yang bertakhayyul terhadap air zam-zam. Seperti orang-orang Pakistan dan Bangladesh, ada yang melakukan perbutan yang menurutku aneh bin ajaib! Kain ihram (laki-laki) yang habis dipakai umrah dan haji dicuci dengan air zam-zam di sekitar Masjidil Haram sekaligus di jemur. Bukan karena mereka kehabisan air di pondokannya, tetapi konon mereka memiliki keyakinan bahwa kain ihram yang dicuci dengan air zam-zam dapat membawa berkah dan kelak akan dijadikan kain kafan pada saat meninggal dunia.



Astaghfirullah! Emang meninggalnya kapan sih mas, kok udah disiapin kain kafan sekarang! Setelah aku amati, ternyata banyak orang Pakistan, Bangladesh, India yang mengenakan kain ihram yang terbuat seperti kain kafan, alias bukan dari bahan handuk tetapi dari kain putih biasa (kain teteron). Cuci kain ihram dengan air zam-zam itu benar-benar terjadi dan menjadi pemandangan yang mengerikan jika ditinjau dari sisi akidah. Lah kok bisa-bisanya, air zam-zam yang peruntukannya diminum, malah dibuat cuci kain segala. Barakah air zam-zam itu terletak pada saat diminum, bukan untuk keperluan lain. So, manfaatkan air zam-zam sesuai dengan petunjuk Nabi jangan sekali-sekali untuk keperluan lainnya.



5. Khurafat di depan makam Nabi



Pebuatan khurafat di depan makam tidak hanya monopoli orang Indonesia ketika berziarah di makam para wali atau orang yang dianggap keramat. Di depan makam Nabi dan para sahabatnya pun perbuatan itu benar-benar terjadi, meskipun dijaga 24 jam oleh Asykar.Nabi bersabda: bahwa ziarah kubur pernah aku larang, tetapi ziarah kubur sebenarnya memiliki manfaat. Manfaat yang konkrit sesungguhnya untuk para peziarah sendiri agar selalu mengingat akan kematian yang bisa datang kapan dan dimana saja. Oleh karena itu, bersegeralah melakukan taubat sebelum maut menjemput. Begitu kira-kira pesan Nabi.



Ziarah ke makam Nabi dan para sahabatnya sebenarnya bertujuan untuk menyampaikan shalawat dan salam kepada beliau sebagai penghormatan kepada beliau sebagai utusan Allah, serta memanjatkan doa kepada para sahabat Nabi yang lain. Disamping itu, tempat antara makam Nabi dengan mihrab yang bernama Raudlah merupakan tempat yang mustajab untuk berdoa. Jadi kepentingannya hanya untuk berdoa kepada Allah baik untuk Nabi dan sahabatnya maupun untuk kepentingan kita sendiri, titik! Tidak ada mengusap-usap dinding makam dengan kepercayaan tertentu, bahkan merajuk-rajuk seperti minta sesuatu kepada Nabi. Makanya di depan makam Nabi seseorang dilarang duduk mengahadap. Kalau ketahuan Asykar akan diusir atau paling tidak disuruh berdiri.



So, Nabi telah wafat, kewajiban kita hanya memuliakan sebatas yang wajar dan tidak boleh meminta-minta kepada beliau yang macem-macem. Kewajiban kita hanya berdoa kepada Allah agar tetap dibimbing supaya menjadi umat Nabi yang lurus. Nabi yang telah wafat hanya meninggalkan tuntunan berupa peninggalan Al-Quran dan As-Sunnah yang mesti dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, jauhilah perbuatan takhayyul, khurafat dan bid’ah di sekitar makam Nabi. Kalau di depan makam Nabi berbuat sesuatu yang beraroma syirik, lebih baik anda nggak usah pergi haji, dan duitnya dibagikan kepada fakir miskin atau korban bencana saja! Oke?

Kirimkan teman lain ingin ikut membaca juga. Terimakasih

0 komentar:

Poskan Komentar