CERITA BUAT RENUNGAN AJA.....

Membangun rumah tangga kadang tak beda

dengan mendirikan rumah. Perlu saling cocok

antara pondasi, jumlah lantai, ketebalan dinding,

dan beratnya atap. Cuma bedanya, membangun

rumah tangga tak perlu mandor.

Pernahkah terbayang kalau ada pihak lain yang

selalu khawatir dengan bangunan rumah tangga

orang lain. Pertanyaan itu mudah dijawab. Dan

jawabannya siapa lagi kalau bukan orang tua.

Merekalah pihak yang kerap khawatir dengan

keberlangsungan rumah tangga anak-anaknya.

Hal itu memang wajar. Ibarat membelikan anak

sepeda baru, para orang tua terikat pada dua rasa:

puas karena bisa membahagiakan anaknya, dan

khawatir karena ada ancaman baru yang bisa

membuat anak terluka. Di satu sisi, bersepeda

bisa membangun keterampilan baru buat anak.

Tapi di lain sisi, peluang anak terjatuh dan

berdarah juga membesar.

Seperti itu juga rasa orang tua saat melepas

gadisnya berlayar pada bahtera baru rumah

tangga. Ada rasa puas karena sukses menunaikan

amanah. Ada juga gundah kalau-kalau rumah

tangga anak tak berlangsung lama. Terlebih lagi

ketika proses pernikahan terasa tak 'normal'. Hal

itulah yang kerap dirasakan Pak Dede.

Bapak usia lima puluhan ini bisa dibilang cuci

gudang. Gadis bungsunya baru saja menikah.

Usai sudah tugasnya menunaikan amanah lima

anak. Semuanya sudah mandiri. Semuanya

sudah berkeluarga.

Namun, ada yang lain buat yang terakhir. Gadis

bungsu kesayangannya tiba-tiba minta nikah.

Permintaan ini seperti bom di siang bolong.

Heboh! Khususnya buat Pak Dede. "Bayangkan,

kenalan sama cowok saja belum pernah. Eh,

tahu-tahu udah punya calon suami!" ucap Pak

Dede suatu kali.

Ia nggak habis pikir, gimana caranya tiba-tiba ada

calon suami. Tanpa kenalan. Tanpa pacaran. Pak

Dede tahu benar bungsunya. Beda dengan kakak-

kakaknya yang hobi gaul. Tiap malam minggu,

semua anaknya selalu keluar. Kecuali si bungsu

itu.

Seumur-umur, Pak Dede belum pernah

menerima tamu pemuda yang nyari-nyari

bungsunya. Kecuali suatu kali. Dan hal itu telah

membuktikan kalau ucapan bungsunya benar-

benar serius. Pemuda itu bilang ke Pak Dede,

"Maksud saya ke sini mau melamar anak Bapak!"

Hampir-hampir saja, Pak Dede pingsan.

Kalau bukan karena khawatir bungsunya bisa

patah arang, Pak Dede mungkin akan menolak

mentah-mentah. Lamaran itu pun ia terima. Dan

pernikahan pun akhirnya berlangsung meriah. Ia

yakin, anaknya yang berjilbab itu tidak mungkin

hamil lebih dulu. Lha, melihat orang pacaran saja

belum pernah. Cuma satu hal yang mengusik

pikiran Pak Dede: dukun mana yang semanjur

itu? Benar-benar tok-cer! Apalagi menantu

barunya itu bisa dibilang biasa-biasa saja. Kayak

tidak, ganteng juga jauh.

Itulah kenapa, Pak Dede menolak ketika

bungsunya mau pindah rumah. "Jangan! Tinggal

bareng aja sama ayah dan ibu," ucapnya

menanggapi permintaan anak dan menantunya.

Pak Dede pun berdalih kalau ia dan isterinya akan

kesepian ditinggal anak-anak.

Sebenarnya, Pak Dede punya alasan sendiri. Ia

masih penasaran, hal apa yang membuat

anaknya bisa cinta sama menantunya itu. Hampir

tiap malam, Pak Dede menguntit sang menantu.

Kalau kedapatan sedang nyebar kemenyan, ia

akan langsung tangkap.

Tujuh hari tujuh malam, Pak Dede terus

menguntit. Hingga di malam kedelapan,

menantunya keluar kamar. Waktu menunjukkan

pukul dua malam. Suatu hal yang tidak lazim buat

kebiasaan pengantin baru. Soalnya, di kamar itu

sudah ada kamar mandi. Buat apa lagi keluar

kamar kalau bukan urusan mistik. Pak Dede tetap

menunggu. Ia makin curiga ketika menantunya

menuju ruang atas. Padahal, di atas cuma ada

tiga ruangan: menjemur, ruang baca, dan

mushola. Pak Dede makin penasaran.

Setelah tiba di atas, ia perhatikan kalau

menantunya masuk ke ruang mushola. "Gila,

mau apa tengah malam di mushola?" bisik batin

Pak Dede. Soalnya, ia sendiri jarang salat di situ.

Biasanya cuma di kamar. Ia menunggu saat

tepat. Pak Dede yakin, tak lama lagi, akan ada

suara mantera-mantera dan bau aneh. Ternyata,

tidak. Sayup-sayup, Pak Dede mendengar orang

membaca Alquran. Suaranya mengalun merdu.

Indah sekali. Hampir-hampir saja Pak Dede

menangis karena untaian iramanya yang begitu

menyentuh. "Luar biasa. Menantuku ternyata

bukan orang sembarangan!" batin Pak Dede

sambil kembali ke kamar tidur.

Kini, Pak Dede mengakui kalau menantunya itu

orang alim. Tapi, ia masih ragu. Ia yakin, kalau

pernikahan yang prematur pasti akan ada

ketidakcocokan. Hampir tak pernah bosan, Pak

Dede mencuri dengar dari balik pintu kamar

anaknya.

Benar saja. Dari kamar seperti ada suara ribut.

Anak dan menantunya sedang berebut

omongan. "Nggak bisa, kamu yang salah! Akang

yang salah!" Dan, seterusnya. Spontan, Pak Dede

mengetuk pintu kamar. Sudah tak sabar ia ingin

memberi nasihat.

Setelah pintu kamar terbuka, Pak Dede langsung

bersuara. "Anakku. Itulah sebabnya jika

pernikahan terburu-buru. Kamu akan terus

bertengkar!" Anehnya, ucapan itu justru

membuat anak dan menantunya tersenyum. Dan

si bungsu pun bilang, "Ayah sayang, kami bukan

sedang cekcok. Kami lagi beda pendapat soal ada-

tidaknya Alqaedah!"

Pak Dede cuma bingung. Ia pun menggaru-garuk

kepala. Di pikirannya cuma ada satu pertanyaan:

makanan khas mana Alkaedah itu?




Kirimkan teman lain ingin ikut membaca juga. Terimakasih

0 komentar:

Posting Komentar