HIKMAH DIBALIK LETUSAN GUNUNG MERAPI

Lepas dari kematian itu adalah takdir, korban jiwa pada musibah letusan Gunung Merapi seharusnya bisa dikelak seandainya warga yang tinggal di daerah bahaya menaati imbauan untuk mengungsi. Peningkatan status gunung dari normal menjadi awas, toh, tak terjadi mendadak. Peningkatannya bertahap, mulai ke status waspada (20 September), meningkat menjadi siaga (21 Oktober), dan terakhir awas (25 Oktober).

Pada status terakhir ini, protap yang seharusnya diberlakukan tegas adalah mengevakuasi warga dari daerah-daerah bahaya, tanpa kecuali. Termasuk, katakanlah itu Mbah Maridjan, tokoh sepuh yang jadi panutan di Kinahrejo. Namun, yang kemudian terjadi, sebagian warga di Kinahrejo seolah tak terlalu peduli, dan tetap saja menjalankan aktivitasnya biasa, termasuk Mbah Maridjan. Bahkan, beberapa menit sebelum wedhus gembel melalap habis Kinahrejo, Mbah Maridjan dan beberapa orang lainnya masih berada di sana, padahal pintu kemungkinan untuk selamat itu secara kausalitas jelas sudah tertutup.

Benar, sekali lagi, kematian memanglah takdir yang tak seorang pun mampu memastikan saatnya. Jika waktunya tiba, tak akan ada yang bisa mengulur, atau mempercepatnya, kecuali Tuhan. Zat yang tidak ada lagi selain Dia, yang memiliki otoritas untuk itu.

Namun, tawakal bukanlah kesombongan sekalipun batas di antaranya hanya terpisah tipis, bahkan kadang samar. Tawakal adalah kondisi yang hanya ada ketika semua usaha telah diupayakan. Bukan menentang maut, padahal kesempatan untuk selamat cukup tersedia, bahkan lebih dari cukup. Wallaahualam bisawab. Gunung yang gagah itu, akhirnya meletus, Selasa (26/10) sore. Kinahrejo luluh-lantak.

Pada sisi yang lain, banyaknya korban tewas akibat letusan Merapi kali ini barangkali juga menjadi gambaran bahwa para pemimpin kita sudah tak lagi "cukup" untuk menjadi panutan. Warga tak lagi menjadikan mereka teladan karena lagi-lagi mereka tak "cukup" untuk diteladani.

Tidak tegasnya tindakan pemerintah mengevakuasi warga saat status gunung menjadi awas, dalam sudut yang lain, juga menjadi sebab, kenapa warga tak lagi manut. Padahal, seandainya sejak status itu menjadi awas, pemerintah secara tegas melarang dan mengevakuasi paksa semua orang yang berada di daerah bahaya, tindakan itu mungkin akan menyelamatkan banyak sekali nyawa, meski secara temporer, pasti akan dibenci sebagian pihak.

Dalam beberapa hal, pemimpin memang harus membuat pilihan secara cepat, dan memastikannya berjalan demi menyelamatkan gerbong yang dipimpinnya. Ia mungkin harus mengambil risiko dibenci, bahkan dicopot karena upayanya yang begitu rupa untuk kebaikan gerbongnya. Tapi, seperti itulah seorang pemimpin seharusnya bertindak.

Apa yang terjadi pada musibah Merapi kembali memberikan kita pelajaran. Sekarang bukan saatnya lagi menyesal sebab yang mati tak kan kembali

Kirimkan teman lain ingin ikut membaca juga. Terimakasih

0 komentar:

Poskan Komentar