pertemuan ke 165 " tiada kata seindah do'a"

Sesegar apapun tubuh manusia, seketika ia terjatuh mati saat otakmenjumpai ajalnya. Aktifitas yang sehat akan terlaksana dengan baikbila otak masih berstamina. Jikalau aktifitas-aktifitas duniawi manusiahanyalah nonsen dan hampa tanpa ibadah kepada Sang Pencipta, maka doalah yang menjadi otaknya. Tanpa doa, semu jua ibadah-ibadah kita.

Sungguh benar sabda Baginda "al-Du'a' mukhkhul-ibadah". Bagaimanatidak, sebab kita tidak memiliki apa-apa jika Tuhan belum memberinya.Kita tak sanggup kemana-mana jika Tuhan belum menunjukinya. Sekerasapapun usaha hamba, ia masih memerlukanNya, ia masih perlu berdoa danbanyak berdoa.

Tatkala hamba masih mengandalkan usaha kerasnya, dan telah lupa akankuasaNya, maka yakinlah, usaha itu tak sekeras kepalanya! Ia telahangkuh secara terang-terangan di hadapanNya. Bukankah Tuhan sendiribertitah dalam firmanNya: "Berdoalah kepadaKu, niscaya akanKuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diridari menyembahKu akan masuk Jahannam dalam keadaan hina dina".

Tiada kata seampuh doa. Segala ibadah, doa otaknya. Bayangkan saja,setebal apapun takdir bakuNya, hanya doa mampu menembusnya! Rasulbersabda: "La yarud al-qadha' illa al-du'a'", "al-Du'a' silahal-mukmin". Untuk menembus suratan-suratan takdir, dan merubah segalayang negatif padanya, doa lah senjata satu-satunya!.

Etika Berdoa.

Dalam momen apapun, etika selalu yang utama. Setiap orang yang berhajatpada manusia, ia akan melindungi etika agar terpenuhi hajatnya.Padahal, manusia teramat lemah untuk memberi, menerima, bahkan menyapa.Bagaimana ketika Tuhan Yang Maha Kaya dan Maha Kuasa menjadi obyekpermohonan kita? Sudahkah etika dijaga?!

Wali-wali Allah yang telah menguasai seni etika dalam berdoa, telahmengajarkan banyak hal yang harus diperhatikan sewaktu memohonkepadaNya. Salah satu mereka adalah Maulana Syekh Mukhtar Ali Muhammadal-Dusuqi (Syekh Thariqah Dusuqiyah Muhammadiyah). Beliau telahmenasehati murid-muridnya...

1. Kalau belum ditimpa musibah, jangan berdoa dengan "Allahumma ij'alnimin al-Shabirin" (Ya Allah, jadikanlah hambaMu orang yang sabar) karenadoa itu berarti: Ya Allah, berikanlah hambaMu ini musibah agar hambadapat bersabar! Jika sering berdoa seperti itu maka artinya kitamengharap musibah yang sebanyak-banyaknya!

Sebaiknya kita sering berdo'a dengan "Allahumma ij'alni minal-Syakirin" (Ya Allah, jadikanlah hambaMu ini orang yang pandaibersyukur) karena itu artinya: Ya Allah, berikanlah hambaMu ini nikmatagar hamba dapat mensyukurinya. Dengan sering berdoa seperti itu makakita akan mendapat nikmat yang sebanyak-banyaknya (Amien!).

2. Janganlah memohon perlindungan Allah dari kedengkian orang-orangkepada kita! sebab semua nikmat dan rizki itu pasti mendapat kedengkiandari orang lain, Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Setiap yang mendapatnikmat pasti ada yang dengki padanya". Jika kita tidak mau didengkiorang maka sama artinya kita tidak menginginkan rizki dan nikmat!Mintalah dari Allah agar dilindungi dari kejahatan orang-orang yangdengki, jangan minta dihindarkan dari kedengkian mereka itu sendiri.Katakanlah: Ya Allah, jagalah hambaMu ini dari kejahatan para pendengkidan jagalah hati hambaMu ini dari sifat dengki itu sendiri.

3. Doa itu faridlah (kewajiban), sementara terkabulnya doa hanyalahhibah (anugerah). Wajib bagi kita berdoa, dan tidak wajib bagiNyamengabulkan doa. Dikabulkan atau tidak, sepenuhnya terserah Dia, karenaAllah bukan pelayan restoran. Allah Swt. adalah Tuhan yang berhakmemberi atau tidak. Kita selaku hamba yang hina hanya wajib mengemisdan meminta. Jika terkabul, maka semata-mata karuniaNya. Jika tidak,maka wajar-wajar saja, sekali lagi Dia Tuhan, bukan suruhan kita.

4. Berdoalah dengan penuh optimisme. Mintalah dari Allah sesuaikeyakinanmu akan kekuasaanNya. Percayalah bahwa Ia Maha Kuasa atassegala-galanya. Sedangkan kita pun tercipta dari tiada, apakah Ia taksanggup memberi kita walau sekedar dari yang ada?!

5. Jangan lupa diri! Kita masih penuh dosa. Ketika berdoa, jangan lupa bertwassul kepadaNya melalui Nabi, Sahabat, Ahlul-Bait dan Auliya'Nya.Sebab posisi mereka di sisiNya, tak butuh kata-kata.

6. Imam Ali Ra. pernah menyatakan: "Semua doa akan mogok di langitsampai ia diiringi selawat kepada Nabi Muhammad Saw. dan Ahlul-Bait".Sertai dan indahkanlah doa-doa kita dengan selawat.

7. Kuat berdoa tanpa diiringi usaha yang maksimal serta amal shalih yang cukup, sungguh tercela!

8. Tidak etis bahkan dilarang keras meminta hal-hal yang melampauibatas, semisal: Ya Allah jadikanlah hambaMu ini nabi! atau mala'ikat!.

9. Carilah saat-saat berlian untuk berdoa, seperti tengah malam, bulanRamadan, malam nishfu Sya'ban, Lailatul-Qadr (malam 27 Ramadan),sewaktu wukuf di Arafah dan lain sebagainya. Carilah juga tempat-tempatmulia seperti Ka'bah, maqam Rasulullah, maqam Ahlul-Bait dan para wali.Allah Swt. menceritakan dalam suta Ali Imran ayat 37-39 bahwa doaSaidina Zakaria saja (sebagai nabi) baru terkabul sewaktu berdoa dimihrab Siti Maryam (yang sebatas wali perempuan). Bagaimana ketika kita(yang bukan wali, nabi atau rasul) berdoa di maqam seorang wali ataumaqam Junjungan alam semesta ?!?

10. Dan lain-lain.

Antara Ijabah dan Istijabah

Dalam al-Qur'an cukup jelas perbedaan antara ijabah dan istijabah.Maulana Syekh Mukhtar Ali Muhammad al-Dusuqi telah mengupasnya secaradetail dalam surat kabar al-Fajr edisi 2 Oktober 2006, dan dalam suratkabar al-Buhairah wal-Aqalim edisi 195 tahun 2006. Terang beliau,istijabah ialah terkabulnya doa secara fleksibel, bergantung padakehendak Allah seutuhnya; entah ditunda, diberi kurang, atau digantidengan yang lebih baik di sisiNya. Sedangkan ijabah ialah terpenuhinyadoa persis sesuai permintaan hamba. Tentunya ijabah lebih kita harapkan!

Singkatnya, istijabah akan selalu diperoleh selagi kita masih berdoatanpa melalui tawassul, karena Allah berfirman: "Ud'uni astajib lakum".Sementara ijabah akan diraih jika melalui tawassul kepada RasulullahSaw. dimana beliau lah yang nanti akan memintakan hajat kita kepadaAllah Swt. dan tentunya doa beliau 100% mujab. Allah Berfirman: "Waidza sa'alaka ibadi anni fa inni qaribun ujibu da'wata al-da'i idzada'ani". "Idza" dalam ayat di atas adalah adat syarat. Fi'il syaratnyaadalah "sa'alaka". Maka jawab syaratnya adalah "fa inni qarib".Sehingga Allah akan meng-ijabah doa RasulNya ("al-Da'i") untuk kita,jika kita memenuhi syaratnya, yakni bertawassul dengan Rasulullah Saw.

Ayat di atas menyimpulkan bahwa syarat kedektan ("Qarib") Allah kepadakita adalah apabila kita meminta / berdoa ("Sa'alaka") melaluiRasulullah Saw. yang kemudian beliau memintakan hajat kita kepada Allahsecara personality, dan Allah tentu meng-ijabah doa Baginda kalau sajabeliau sudi berdoa untuk kita ("Ujibu da'wata al-Da'i idza da'ani").

Bila diperhatikan, makna di atas cukup senada dengan ayat 64 suratal-Nisa' yang berarti: "Dan jikalau mereka menganiaya diri sendiri lalumereka (1) datang kepada Rasul, dan (2) memohon ampun kepada Allah,kemudian (3) Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, maka tentulahmereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang".

Ayat di atas jelas menegaskan bahwa untuk melancarkan proses penerimaantaubat pun harus melalui istighfarnya Rasulullah Saw. Di sini kitaperlu mengetahui perbedaan antara Ghaffar dan Tawwab. Ghaffar adalahmengampuni dosa hamba tapi tidak memeliharanya dari dosa itu lagi.Adapun Tawwab ialah mengampuni dosa hamba sekaligus menjaganya darikembali ke dosa lagi.

Allah berfirman: "Istaghfiru Rabbakum innahu kana Ghaffara". Allah akanberlaku Ghaffar terhadap kita apabila kita beristighfar kepadaNyasecara langsung tanpa melalui Rasul. Allah Swt. baru berlaku Tawwabtatkala kita mendatangi (mewasilahi) Rasulullah Saw. sebagaimana ayat64 surat al-Nisa' di atas. Dan apabila kita enggan mendatangi beliaumaka Allah berfirman: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: "marilahagar Rasulullah memintakan ampun bagimu", mereka berpaling danmenyombongkan diri, maka sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunanbagi mereka atau tidak, Allah tidak akan sudi mengampuni mereka.Sesungguhnya Allah ogah memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik".

Kembali ke ijabah dan istijabah. Terdapat cara / keadaan lain untukmendapatkan ijabah, yaitu apabila berdoa dalam keadaan gawat aliasdarurat (dalam kesulitan yang amat sangat). Allah Swt. berfirman:"Siapakah selain Allah yang akan meng-ijabah doa orang yang dalamkesulitan apabila ia berdoa kepadaNya".

Berdoa di Malam Nishfu Sya'ban, Bid'ah?

Dalam surat kabar al-Fajr Mesir, edisi Agustus 2008 lalu, Maulana SyekhMukhtar al-Dusuqi menyayangkan bahwa doa di malam nishfu Sya'ban masihkontroversial sampai saat ini di kalangan umat Islam. Ada pihak-pihakyang cukup ekstrim mengharamkannya dengan alasan tidak dilakukan RasulSaw. Apalagi dengan lafaz doa yang sudah beredar, itu tidak pernahdiucapkan Rasul Saw. Padahal, beliau pun tidak pernah berdoa denganlafaz "Ya Allah berikan hamba sebuah mobil" lalu apakah kitamengharamkan dan membid'ahkan lafaz doa tersebut?!

Malam nishfu Sya'ban adalah malam pergantian kiblat, pada malam ituseluruh buku-buku takdir direvisi ulang. Tepat saat itu hambamengangkat tangannya seraya memohon: "Ya Allah, jika Engkau telahmenakdirkanku sebagai orang yang celaka dan miskin, maka hapuslahdengan karuniaMu kecelakaan dan kemiskinan itu, dan takdirkanlah hambamenjadi orang yang kaya dan bahagia". Kata mereka, doa semacam itutidak etis! Kalau memang fatwa mereka benar, maka istighfar pun tidaketis! Bukankah istighfar tak lebih dan tak kurang dari memohon agarAllah menghapus apa yang telah ditakdirkan untuk hamba berupa dosa?!

Di edisi yang sama, Maulana Syekh Mukhtar al-Dusuqi juga menceriterakansebuah dialog yang cukup unik dan banyak pelajarannya, antara dua orangyang saling bertentangan seputar doa di malam nishfu Sya'ban. Kitasimak dialog mereka...

"Kenapa kamu berdoa di malam nishfu Sya'ban?" tanya si bodoh.

"Kamu sendiri, kenapa melarang dan menentang doa di malam itu?" balas si pintar.

"Karena mayoritas muslim hanya berdoa di malam itu saja!" si bodoh menjawab.

"Kalau iya kenapa? kali aja malam itu mereka baru dapat petunjuk untukkhusyu' berdoa, apakah kita menghalangi mereka?!" tegas si pintar.

"Berdoa itu sepanjang tahun, bukan malam itu saja!" si bodoh masih saja ngeyel.

"Kalau sepanjang tahun harus berdoa, kenapa justru malam itu pengecualiannya?!" si pintar mengakhiri dialog mereka.



Kirimkan teman lain ingin ikut membaca juga. Terimakasih

0 komentar:

Poskan Komentar