(PERTEMUAN KE 7) KISAH PENJUAL PISANG BAPAK EH PISANG AJA DEH...

Seorang kakek tua penjual pisang keliling tersungkur
tepat di seberang Pasar Swalayan Carefour Lebak Bulus
Demikian suatu berita di pojok salah satu halaman Kompas kemarin
Banyak orang yang berseliweran
tak ada yang perduli


tak ada yang menoleh
Dia hanyalah seorang laki-laki penjual pisang yang mungkin tidak dianggap penting
sehingga kita tidak memerlukan waktu untuk sekedar menyapanya atau memapahnya

Dia tetap beribadah puasa sambil berjualan
Disaat kita sibuk ngabuburit ke mal mewah harum dan dingin dengan penyejuk udara
dia menjalani ngabuburit dengan berjualan pisang keliling
terpanggang matahari
berjalan kaki puluhan kilometer
tidak mengenal lelah
tidak mengeluh kehausan dan kelaparan
karena mungkin haus dan lapar adalah sahabat sehari-harinya

kemana sajakah saya selama ini ?
Saya bahkan tidak mengenalnya
dan mungkin tidak perduli padanya jika bertemu dijalan
saat dia menjajakan pisangnya

Mungkin saya akan menggelengkan kepala saat dia menawarkan pisangnya
sementara tangan kanan saya membuka kaca mobil dan memberikan uang recehan pada peminta minta
Padahal dia mengatakan, ” saya tidak mau meminta minta, saya lebih suka jualan ”
Betapa terhormatnya dia
dan saya tidak perduli padanya,
saya bahkan mungkin tidak pernah terfikir untuk bertanya berapa penghasilannya sehari
selama dia mengukur jalanan dijakarta yang berdebu dan panas di bulan Ramadhan ini
Seharusnya saya mengangkat topi untuknya

Disaat saya mengeluh kepanasan saat AC di kantor tidak sejuk seperti biasanya
dia tetap berada dijalan yang panas
tersungkur beberapa kali karena keletihan
atau mungkin dehidrasi
atau tidak ada lagi energi yang tersisa dari sahurnya semalam
lalu saya membayangkan dia berbuka dari pisang2nya yang tidak terjual
dan sahur dari sisa pisang-pisangnya itu
sementara saya masih saja mengomel jika lauk dirumah tidak bervariasi
membosankan dan tidak berselera
lalu saya akan pergi ke resto mewah
sekedar memanjakan pencernaan saya,
yang sebenarnya berteriak kegirangan karena diberi istirahat di bulan puasa ini
padahal pencernaan saya juga tidak membutuhkan makanan mewah lezat
padahal yang diperlukan pencernaan saya hanya yang cukup dan bergizi saja
Sementara si laki-laki tua penjual pisang mungkin untuk mendapatkan yang cukup saja kesulitan
apalagi yang bergizi

Dia berkeliling kompleks perumahan mewah
dan setelah 5 blok baru dia dapatkan pembeli
hanya berapa rupiah yang terbayar
dari hasil keringatnya berjalan puluhan kilometer
saat berpuasa
di hari yang terik dan membakar
Sementara saya membeli kenyamanan berbelanja di hipermarket mewah dengan penyejuk udara
dibanding harus berdesak-desakkan dipasar traditional
dan menawar dengan sengit sampai titik darah penghabisan
pada tukang sayur keliling
sementara saya membeli sayuran di hipermarket mewah tanpa menawar
padahal selisihnya mungkin lebih tinggi dibanding penawaran saya pada situkang sayur keliling

Pantaskah saya mendapatkan pahala berpuasa di bulan yang suci ini lebih tinggi darinya ?
Dari si laki-laki tua penjual pisang yang terjatuh berkali kali karena kelelahan
yang lebih suka berjalan kaki puluhan kilometer untuk mencari nafkah buat keluarganya dengan halal
dibanding menjadi pememinta minta ?

Apakah saya masih pantas menjadi hambaMU ya Rabbi ?
sementara saya masih saja tidak perduli
ada saudara saudara saya yang tersungkur beberapa kali karena kehausan kelaparan dan keletihan
menjalani ibadah di bulan suciMU ?
Pantaskah saya mengaku orang baik berhati mulia
karena saya menjalani puasa dengan membongkar lemari dan menemukan Alqur’an yang berdebu karena setahun tidak disentuh
dan berjuang mati-matian untuk bisa khatam dibulan ini
lalu setahun kemudian terlupakan lagi
kembali berdebu di pojok lemari buku
Sementara dia mungkin tidak punya waktu untuk mengaji
karena harus berjalan puluhan kilometer menjajakan pisang-pisangnya
di bulan puasa yang terik dan membakar ?

Sungguh, Ya Rabbi
Saya malu padanya
Saya malu jika nanti saya bertemu dengannya dihari perhitunganMU
dan mendapatkan timbangan amal saya sungguh sangat ringan dibanding dengannya

Sungguh saya malu
pada orang-orang terhormat seperti dia
yang tidak pernah mencuri uang rakyat
demi memanjakan pencernaan yang sebenarnya menolak untuk dimanjakan
demi memanjakan keinginan nafsu duniawi
yang dalam sekejap akan hilang

Saya malu padaMU, Ya Rabbi
ternyata saya belum menjadi hambaMu yang peduli...
Astaghfirullah..... :(




Kirimkan teman lain ingin ikut membaca juga. Terimakasih

0 komentar:

Poskan Komentar