Tampilkan postingan dengan label orang lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang lain. Tampilkan semua postingan

Jiwa kita akan bersama dengan orang yang kita cintai

Alkisah di negeri Arab ada seorang janda miskin yang mempunyai anak. Karena anaknya menangis kelaparan, janda itu terpaksa harus keluar rumah untuk mencari uang.


Di depan sebuah masjid, dia bertemu seorang muslim dan meminta bantuannya, “Anakku yatim dan kelaparan, aku minta pertolonganmu” kata janda itu menghiba.“Mana buktinya?” tanya lelaki muslim itu.Janda itu tidak dapat membuktikan karena dia sendiri orang asing di tempat itu. Akhirnya lelaki itu tidak menolongnya.


Setelah itu, janda miskin itu bertemu dnegna orang Majusi. Dia pun meminta bantuannya. Orang Majusi itu mengajak ke rumahnya, memuliakannya dan memberinya uang dan pakaian.



Pada malam harinya, lelaki muslim yang menolak menolong itu bermimpi berjumpa dengan Rasulullah. Semua orang mendatangi Nabi dan beliau menyambut mereka dnegan baik. Ketika tiba giliran lelaki itu menghadap Rasulullah, beliau mengusirnya dan menyuruhnya pergi. Lelaki itu berteriak, “Ya Rasulullah, aku ini umatmu yang mencintaimu juga”Rasulullah bertanya, “Mana buktinya?”


Lelaki itu tersadar, Rasulullah menyindirnya karena dia telah meminta bukti saat dimintai pertolongan. Dia menangis, Rasulullah lalu menunjukkan sebuah taman indah dan hunian indah di surga.“Lihat ini,” tutur Rasulullah. “Seharusnya semua ini kuberikan kepada mu. Tetapi karena kau tidak menolong janda dan anak yatim itu, kuberikan semua ini pada seorang Majusi”

MEMIKIRKAN KESALAHAN DAN DOSA ORANG LAIN............(PERTEMUAN KE 181)

sering kali kita berpikir tentang kesalahan, keburukan, dan aib orang lain. Sampai-sampai kita menjadi sengsara karena perilaku orang lain. Padahal tidak ada satu pun yang menimpa kita kecuali buah dari perilaku kita sendiri. Tidaklah satu senyuman yang kita lontarkan kepada orang lain kecuali kembali kepada diri kita sendiri. Tidak satu patah kata yang kita ucapkan melukai orang lain, kecuali akan kembali kepada diri kita.


Oleh karena itu, janganlah menyalahkan siapapun jikalau hidup kita terpuruk, hidup kita seakan berat dan nestapa. Tiada yang tertukar. Semua perbuatan kembali kepada dirinya sendiri!


Orang-orang yang sangat beruntung itu akan berpikir sangat keras tentang dirinya. “apakah saya seorang yang menyekutukan Allah atau tidak?? apakah saya seorang yang sombong?? apakah saya ini seorang yang riya???


Disini orang yang beruntung adalah orang yang sangat berjuang untuk menemukan dirinya. Padahal bagaimana mungkin kita dapat mengubah orang lain kalau kita tidak berusaha menemukan kekurangan diri kita sendiri.


Kegagalan dakwah dalam islam adalah karena orang yang berdakwah tidak banyak mengetahui kekurangannya sendiri sehingga keindahan islam yang disampaikannya tidak sama dengan keindahan pribadinya. Kebesaran Islam yang diucapkan tidak cocok dengan perbuatannya sendiri. Berbahagialah orang-orang yang meluangkan waktu untuk mengevaluasi dirinya sendiri.