Tampilkan postingan dengan label Kisah Tauladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Tauladan. Tampilkan semua postingan

SPESIAL IDUL ADHA "MEMBANGUN KEKUATAN UMMAT"

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu. Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita bisa hadir pada pagi ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha. Kehadiran kita pagi ini bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Semua ini karena nikmat terbesar yang diberikan Allah swt kepada kita, yakni nikmat iman dan Islam.

Shalawat dan salah semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikuti setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu. Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Idul Adha yang kita rayakan dari tahun ke tahun selalu memberi makna dan pelajaran yang amat berharga bagi kita, baik secara pribadi dan keluarga maupun sebagai umat dan bangsa. Lebih dari 200.000 jamaah haji kita dari Indonesia bersama dengan sekitar 3 juta jamaah haji dari seluruh dunia selalu kita doakan agar dapat melaksanakan ibadah haji dengan sebaik-baiknya dan menjadi haji yang mabrur, karena haji yang mabrur pasti memberi pengaruh positif dalam kehidupan ini.

Idul Adha tahun ini kita masuki dalam suasana duka bangsa Indonesia yang dilanda oleh berbagai musibah yang datang silih berganti, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi sampai gunung meletus, belum lagi dengan berbagai persoalan kehidupan yang begitu banyak, baik di desa-desa terpencil maupun di perkotaan, satu persoalan belum terpecahkan sudah muncul lagi persoalan berikutnya. Oleh karena itu, mengambil hikmah dari ibadah haji dan qurban serta meneladani kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya menjadi sesuatu yang amat penting. Paling tidak, ada lima kekuatan yang harus kita bangun pada umat kita ini untuk bisa mengatasi persoalan dan membangun kehidupan yang lebih baik pada masa-masa mendatang.

Pertama, kekuatan aqidah, iman atau tauhid kepada Allah swt. Nabi Ibrahim as telah mencontohkan kepada kita bagaimana aqidah begitu melekat pada jiwanya sehingga ia berlepas diri dari siapapun dari kemusyrikan, termasuk orang tuanya yang tidak mau bertauhid kepada Allah swt sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan Telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja (QS Al Mumtahanah [60]:4).

Salah satu dampak positif dari aqidah yang kuat akan membuat seorang mukmin memiliki prinsip yang tegas dalam setiap keadaan, dia tidak lupa diri pada saat senang, baik senang karena harta, jabatan, popularitas, pengikut yang banyak maupun kekuatan jasmani dan iapun tidak putus asa pada saat mengalami penderitaan, baik karena sakit, bencana alam, kekurangan harta maupun berbagai ancaman yang tidak menyenangkan, inilah yang membuatnya menjadi manusia yang mengagumkan, Rasulullah saw bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ اِنَّ اَمْرَهُ كُلَّهُ لَخَيْرٌ وَلَيْسَ ذَالِكَ ِلأَحَدٍ اِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ ِانْ اَصَبَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَاِنْ اَصَبَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ Menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya baik baginya dan tidak ada yang demikian itu bagi seseorang selain bagi seorang mu’min. Kalau ia memperoleh kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya. Kalau ia tertimpa kesusahan, ia sabar dan itu baik baginya (HR. Ahmad dan Muslim).

Kekuatan umat Kedua yang harus kita bangun adalah akhlak yang mulia. Kondisi akhlak masyarakat kita sekarang kita akui masih amat memprihatinkan, bila ini terus berlangsung, cepat atau lambat yang lemah dan hancur bukan hanya diri dan keluarga, tapi juga umat dan bangsa. Seorang ulama Mesir yang wafat tahun 1932 M yang bernama Syauqi Bey, menyatakan :

إِنَّماَ الأُمَمُ الأَخْلاَقُ ماَ بَقِيَتْ وَإِنْ هُمُوْ ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا Suatu bangsa akan kekal selama berakhlak, bila akhlak telah lenyap, lenyaplah bangsa itu. Karena itu melanjutkan misi Nabi Muhammad saw memperbaiki akhlak menjadi sesuatu yang amat penting. Profil Nabi Ibrahim dan keluarganya serta dari ibadah haji yang harus ditunaikan oleh kaum muslimin sekali seumur hidupnya adalah menjauhi segala bentuk keburukan dan melakukan segala bentuk kebaikan. Kesimpulan ini kita ambil dari larangan melakukan keburukan bagi jamaah haji, Allah swt berfirman:

(Musim haji) adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh mengerjakan rafats (perkatan maupun perbuatan yang bersifat seksual), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Dan berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (QS Al Baqarah [2]:197)

Akhlak mulia tercermin dari jawaban Ismail as yang meskipun begitu siap untuk melaksanakan perintah Allah swt berupa penyembelihan dirinya, namun ia tidak mengklaim dirinya sebagai orang yang paling baik atau paling sabar, tapi ia merasa hanyalah bagian dari orang-orang yang sabar karena generasi terdahulu juga sudah banyak yang sabar, Allah swt menceritakan masalah ini dalam firman-Nya:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".(QS Ash Shaffat [37]:102).

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu. Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

Ketiga, kekuatan umat yang harus kita bangun adalah kekuatan ilmu dalam arti umat ini harus menguasai ilmu pengetahuan, bukan mencari ilmu sekadar untuk mendapat gelar kesarjanaan, bahkan yang lebih tragis adalah gelar kesarjanaan sudah disandang, tapi tidak ada ilmu yang dikuasai dan diamalkanya. Oleh karena itu menuntut ilmu tidak hanya diwajibkan, tapi diberi keutamaan yang amat besar dan banyak. Generasi Ibrahim adalah generasi yang cinta akan ilmu, karena itu ia mencarinya, dimanapun ilmu itu berada, tanpa ada perasaan puas dalam mendapatkannya, bahkan ilmu yang didapatnya menyatu kedalam jiwa, sikap dan tingkah lakunya, Allah swt berfirman:

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang Tinggi (QS Shad [38]:45).

Oleh karena itu, harus kita sadari bahwa amat sedikit ilmu yang kita kuasai, namun yang amat disayangkan adalah begitu banyak orang yang malas menuntut ilmu, apalagi ilmu agama Islam, padahal ajaran Islam harus kita amalkan dan bagaimana mungkin kita akan mengamalkannya bila memahami saja tidak, akibatnya banyak orang yang hanya ikut-ikutan (taklid) dalam beramal, padahal ini merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan, Allah swt berfirman:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al Isra [17]:36).

Allahu Akbar 3X Walillahil Hamdu. Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Keempat, kekuatan umat yang harus kita bangun adalah ukhuwwah Islamiyah. Dalam ibadah haji, kaum muslimin dari seluruh dunia dengan berbagai latar belakang yang berbeda bisa bertemu, berkumpul dan beribadah di tempat yang sama, bahkan dengan pakaian yang sama. Ini semua seharusnya sudah cukup untuk memberi pelajaran betapa persaudaraan antar sesama kaum muslimin memang harus kita bangun. Bila ukhuwah Islamiyah terwujud dalam kehidupan kita, maka sebagai umat kita punya kekuatan dan kewibawaan, berbagai persoalan umat bisa dipecahkan, kualitas umat bisa diperbaiki dan ditingkatkan serta musuh-musuh Islam bisa dihadapi, bahkan mereka akan takut melihat kekuatan umat yang luar biasa. Tapi karena ukhuwah umat belum terwujud, maka jadilah umat ini seperti buih di tengah lautan yang terus mengikuti kemana beriaknya ombak bukan seperti karang yang memecahkan ombak. Karena itu peribadatan dalam Islam pada hakikatnya menyadarkan setiap muslim dan muslimah sebagai bagian dari umat Islam sedunia dan merupakan salah satu anggota masyarakat Islam sedunia yang tidak boleh berlepas diri dari persoalan-persoalan dunia Islam. Begitulah yang kita peroleh dari ibadah shalat, zakat, puasa dan apalagi haji.

Dalam konteks kehidupan kita sekarang, mungkin saja kita berbeda-beda suku dan bangsa, organisasi sosial dan politik, bahkan dalam kelompok-kelompok aliran atau pemahaman keagamaan, tapi semua itu seharusnya tidak membuat kita menjadi begitu fanatik lalu merasa benar sendiri dan menganggap kelompok lain sebagai kelompok myang salah. Harus kita ingat bahwa ukhuwah merupakan bukti keimanan dan bila ini belum kita wujudkan pertanda lemahnya keimanan yang kita miliki, Allah swt berfirman:

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah Allah, supaya kamu mendapat rahmat (QS Al Hujurat [49]:10).

Kekuatan umat Kelima yang harus kita bangun adalah kekuatan ekonomi, ini pelajaran yang bisa kita ambil dari Nabi Ibrahim as beserta keluarganya yang mau berusaha untuk mencari rizki yang halal, bukan menghalalkan segala cara. Kesulitan hidup tidak bisa dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara dalam mencari harta, apalagi kita memang tidak sesulit generasi terdahulu dalam memperoleh rizki. Keyakinan bahwa Allah punya maksud baik dan rizki di tangan-Nya membuat manusia seharusnya mau berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Siti Hajar berusaha mencari rizki yang dalam rangkaian ibadah haji disebut dengan sa’i. Oleh karena itu Allah swt senang kepada siapa saja yang berusaha secara halal meskipun harus dengan susah payah, Rasulullah saw bersabda: ِإنَّ للهَ تَعَالىَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى تَعِبًا فىِ طَلَبِ الْحَلاَلِ Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hambanya lelah dalam mencari yang halal (HR. Ad Dailami).

Usaha yang halal meskipun sedikit yang diperoleh dan berat memperolehnya merupakan sesuatu yang lebih baik daripada banyak dan mudah mendapatkannya, tapi cara memperolehnya adalah dengan mengemis yang hanya akan menjatuhkan martabat pribadi. Bila mengemis saja sudah tidak terhormat apalagi bila mencuri atau korupsi dan cara-cara yang tidak halal lainnya. Rasulullah saw bersabda:

َلأَنْ يَحْمِلَ الرَّجُلُ حَبْلاً فَيَحْتَطِبَ بِهِ، ثُمَّ يَجِيْءَ فَيَضَعَهُ فِى السُّوْقِ، فَيَبِيْعَهُ ثُمَّ يَسْتَغْنِىَبِهِ، فَيُنْفِقُهُ عَلَى نَفْسِهِ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، اَعْطَوْهُ اَوْمَنَعُوْهُ. Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar, lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik daripada seorang yang meminta minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah khutbah ied kita pada pagi ini, semoga memotivasi kita untuk terus berjuang dengan penuh kesungguhan guna memperbaiki diri, keluarga, umat dan bangsa. Akhirnya marilah kita tutup dengan do’a: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan. اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami. اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرً وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا Ya Allah, jadikanlah haji mereka haji yang mabrur, sa’i yang disyukuri, dosa yang diampuni, perniagaan yang tidak merugi رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.



Kirimkan teman lain ingin ikut membaca juga. Terimakasih

Tausiyah Abi Ridwan AlMahbuby

CUKUP HANYA DENGAN ALLAH SAJA........


Betapa bahagianya umat di zaman ini bila bertemu dengan seorang yang memiliki sikap hidup seperti Said Ibn Mussayyib. Dia merasa cukup hanya dengan Allah azza wa jalla. Tak memerlukan yang lain. Hidupnya tak pernah merasa kekurangan lagi, karena Allah azza wa jalla telah menganugerahi ilmu dan zuhud. “Barangsiapa merasa cukup hanya dengan Allah, maka manusia akan butuh kepadanya”, ucap Said Ibn Mussayyib.Sebuah kisah, menceritakan, tentang putrinya yang amat cantik hendak disunting oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk dinikahkan dengan putranya Walid bin Abdul Malik. Tapi, bukannya Said Ibn Mussayyib gembira atas pinangan dari keluarga Khalifah Abdul Malik bin Marwan, justru dia menolak pinangan itu. Mengapa Said menolak pinangan itu? Bukankah di tangan Khalifah Abdul Malik, segala harta, emas, perak, berlian, tak ternilai dan tak terhitung banyaknya. Kekuasaan ada di tangan Khalifah. Betapa kehidupan keluarga Said Ibn Mussayyib akan menjadi bergelimang dengan segala bentuk harta, bila dia mau berbesan dengan Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Mengapa?

Padahal Walid bin Abdul Malik adalah keturunan Quresy yang terbaik. Tak ada yang cacad. Mengapa Said Ibn Mussayyib menolak pinangan Khalifah Abdul Malik itu? Karena dia takut bila putrinya masuk ke dalam Istana Bani Ummayyah, agamanya akan terkena fitnah. Itulah sikap Said Ibn Mussayyib. Dia lebih mengutamakan agama dibandingkan dengan harta dunia. Padahal, bila Said menginginkannya, dia dan putrinya akan mendapatkan kemuliaan harta dan kekuasaan, bahkan nasabnya akan ikut terangkat. Karena, Walib bin Abdul Malik bin Marwan adalah keturunan Qureys terbaik.

Said mencintai putrinya bagaikana mencintai dirinya sendiri. Maka, dia ingin agar putrinya mengikuti jejak langkahnya. Dia mengajari ilmu kepada putrinya, sebelum mengajari orang lain. Said mengutamakan putrinya. Dia membimbing putrinya dengan cahaya Allah, sebelum dia menyebarkan cahaya itu kepada orang lain. Ketika, Said menolak permintaan sang Khalifah agar putrinya dinikahkan dengan putranya yang sebentar lagi akan menjadi Khlifah, dan menggantikan ayahnya, Said justru memilihkan putrinya dengan seorang pria shaleh, yang akan mengendalikan perjalanan hidupnya denggan kitabullah (al-Qur’an).

Lalu, siapakah pria yang dipilih Said Ibn Mussayyib itu? Pria pilihan Said itu, bukanlah keturunan bangsawan, yang hidup bergelimang harta. Bukan pula seorang menteri yang memiliki kedudukan tinggi, dan bukan pula seorang pengusaha kaya raya (konglomerat), yang uangnya melimpah. Pria yang menjadi pilihan Said Ibn Mussayyib itu adalah pria yang termiskin, yang tidak memiliki apa-apa, selain uang tiga dirham. Sungguh, betapa detik-detik yang sangat membahagiakan bagi pria yang akan menjadi menantu Said Ibn Mussayyib. Dan, pria shaleh itu bernama Abu Wada’ah, yang tak lain adalah murid Said Ibn Mussayyib sendiri.

Suatu ketika, Said Ibn Mussayyib, bertanya kepada Abu Wada’ah: “Pernahkah engkau memikirkan tentang wanita?”. “Semoga Allah menghujani rahmat kepada engkau. Siapakah yang mau menikahkan aku? Aku orang miskin. Hanya memiliki uang dua dirham”, jawab Abu Wada’ah. Pada saat itu juga Said Ibn Mussayyib menikahkan Abu Wada’ah dengan putrinya, dan uang tiga dirham itu menjadi mas kawinnya. Maka, pria yang masih murid Said itu bersuka cita, usai mengucapkan ijab. Pikirannya menarawang. Sedikit memikirkan hidup yang bakal dijalaninya. Bagaimana harus menghidupi isterinya, dan di mana ia akan tinggal? Dan, apakah isterinya akan tinggal di rumah yang sangat sederhana, yang ia tinggali itu? Saat pikirannya sedang menerawang, ia mendengar azan, dan ia berbuka puasa, hanya dengan roti dan minyak zaitun.

Abu Wada’ah yang tengah menikmati roti yang dimakannya itu, tiba-tiba mendengar ketukan pintu. “Siapa diluar?”, tanya Abu Wada’ah. “Said”, jawabnya. Semua orang yang aku kenal bernama Said tergambar dengan jelas dalam benakku, kecuali Said Ibn Mussayyib. Ternyata yang datang adalah Said Ibn Mussayyib, ketika aku membukakan pintu. “Wahai guru, mengapa tidak mengutus orang lain untuk memanggilku?”, tanya Abu Wada’ah. “Engkau lebih patut aku datangi”, ujarnya. Lalu, “Sampai tadi, engkau masih bujangan. Sekarang, engkau telah menikah. Aku tidak ingin engkau tidur sendirian malam ini. Karena itu aku bawakan isterimu”, tandas Said Ibn Mussayyib. Betapa bahagianya Abu Wada’ah malam itu. Ia tak lagi sendirian. Bersama isterinya yang telah ia nikahi.

Sebulan lamanya, antara guru dan murid tak bertemu. Antara Said Ibn Mussayyib dan Abu Wada’ah tak bertemu. Sampai bulan berikutnya antara guru dan murid bertemu. Usai pengajian. Para murid Said sudah meninggalkan ruangan. Tinggal Abu Wada’ah. Tak lama, Said menemui muridnya. Ia mendekati muridnya itu, lalu bertanya: Bagaimana anakku itu? Lalu, Abu Wada’ah menjawab: “Baik. Sesuai dengan apa yang disenangi kawan, dan dibenci musuh”. Said bertanya lagi: “Jika ada sesautu yang membuatmu tidak ridha, pakailah tongkat ini”, tambahnya. Ketika aku meninggalkan rumah Said, aku diberi uang sebesar 20.000 dirham.

Said Ibn Mussayyib telah memberikan contoh yang luar biasa. Pernikahan itu bukanlah pemborosan. Bukan memarenkan kesombongan. Dengan menghabiskan uang berpuluh milyar. Makanan diimport, bunga yang menjadi perhiasan diimport, gaun pengantin yang bermilyar, dari para perancang mode yang paling terkenal, dan gedung-gedung mewah, yang kemilau. Semua itu mubazir dan tak ada manfaatnya di sisi Allah.

Said Ibn Mussayyib, sejak lima puluh tahun, tak pernah telat takbiratul ihram dalam shalat berjamaah, tak pernah melihat tengkuk seseorang dalam shalat selama lima puluh tahun. Ia banyak berpuasa dan menunaikan ibadah haji sebanyak empat puluh kali. Ia telah menghimpun ilmu, kefaqihan, wara’, ahli ibadah, zuhud, dan tidak menoleh dunia. Ia pun menolak pemberian. Suatu ketika, saudaranya datang memberikan uang 4 ribu dirham, tapi ia menolaknya.Khalifah Umar bin Abdul Azizpun sangat menghormati Said Ibn Mussayyib. Umar tak pernah memutuskan suatu perkara sebelum berkonsultasi dengan Said.

Said Ibn Mussayybi menimba ilmu dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar, dan belajar dari para isteri Baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam, seperti Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu anhuma. Said juga mendengar ilmu dari Utsman, Ali, dan Shuhaib. Bahkan, Said menikah dengan putrid Abu Harairah.Semoga kita bisa meneladaninya. Wallaha ‘alam