lanjutan : GEMPA DAN KEMUSYRIKAN

Kepala Kerbau

Namun, yang mengkhawatirkan, di antara sekian banyak program tersebut terselip tontonan bernuansa syirik (menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala) dan terkesan mubazir.Di Pelabuhan Ratu, ibu kota Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, misalnya. ada upacara adat Serah Taun, sebuah upacara memasukkan padi hasil panen ke dalam leuit (gudang). Menurut Nano Juhartono, Kepala Seksi Wisata Khusus Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, acara tersebut kental dengan unsur magis.

Bayangkan, sebelum prosesi dilakukan, para puun (dukun) membacakan mantra-mantra yang ditujukan kepada Dewi Padi, yang biasa dikenal dengan Nyi Sri. Menurut Nano, mantra-mantra itu juga mengandung makna ucapan terima kasih kepada Nyi Sri atas terselenggaranya panen dengan baik.

Tak cuma itu, Pelabuhan Ratu yang terletak di pesisir pantai selatan Pulau Jawa ini punya tradisi tahunan bernama Pesta Nelayan. Acara yang diselenggarakan setiap bulan April ini juga punya tujuan yang sama seperti Serah Taun. Hanya saja, pesta yang selalu ditandai dengan pelepasan sesajen berupa kepala kerbau dan nasi tumpeng ini dipersembahkan kepada Nyi Roro Kidul.

Uniknya, pelepasan sesajen itu dilakukan oleh seorang wanita yang didandani dan menggunakan kebaya warna hijau. Konon, Nyi Roro Kidul sangat menyukai warna hijau. Tak cuma itu, wanita itu pun harus cantik. Untuk mendapatkan yang cantik, biasanya panitia pesta nelayan menggelar kontes kecantikan tingkat SMU.

Belakangan, menurut Ali Murtadho, Ketua Panitia Pesta Nelayan di tahun itu, persembahan kepala kerbau sudah tak ada lagi. "Kepala kerbau, sejak beberapa tahun silam, sudah diganti dengan benur (benih ikan) dan kura-kura," katanya. Namun, menurut pengakuan Ketua MUI Kecamatan Pelabuhan Ratu, KH Abdullah Mansyur, kepala kerbau itu masih tetap ada, tapi hanya sekadar saja.

"Kalau dulu hanya menyembelih satu kerbau, tapi sekarang tinggal beli di pasar," ujarnya saat ditemui di Pelabuhan Ratu.

Abdullah sudah berupaya untuk mengubah budaya ini dengan menyisipkan istighosah pada acara ini. Alasannya, istighosah juga bermakna bersyukur, cuma bukan kepada Nyi Sri, melainkan kepada Allah SWT.

Itu saja, menurut Abdullah, masih ada nelayan yang protes. Mereka mengaku hasil tangkapan menjadi berkurang. Walhasil, sekelompok kecil nelayan sempat ketahuan mengadakan sendiri acara lempar sesajen kepala kerbau atas dukungan dana dari seorang bandar ikan.

Lalu, berapa rupiah yang masuk ke kas daerah dari perayaan budaya ini? Sayang sekali Nano tak memiliki datanya. Yang jelas, kata Nano, setiap perayaan dua upacara itu selalu dihadiri turis-turis bule.



Jelaslah, gempa yang terjadi pada masa-masa ini di beberapa tempat termasuk ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan yang digunakan untuk menakut-nakuti para hambaNya. Semua yang terjadi di alam ini, (yakni) berupa gempa dan peristiwa lain yang menimbulkan bahaya bagi para hamba serta menimbulkan berbagai macam penderitaan, disebabkan oleh perbuatan syirik dan maksiat.

Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla : "Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". [asy Syuura : 30].

Allah Azza wa Jalla berfirman : "Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri". [an Nisaa` : 79].


Allah Azza wa Jalla berfirman : "Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi". [Al A’raaf : 97-99]. 




Kirimkan teman lain ingin ikut membaca juga. Terimakasih

0 komentar:

Poskan Komentar