KETIKA DITIMPA MUSIBAH DAPATKAH KITA SEPASRAH SEKUAT NABIYULLAH IBRAHIM AS

Mengharubiru juga akhirnya ketika saya ber khutbah jumat kemarin dimana saya membahas kepasrahan total Nabi Ibrahim saat menerima dan patuh melaksanakan (sami’na waata’na) perintah Allah untuk ‘mengorbankan’ putra kesayangannya Ismail. Mengapa mengharubiru?, disaat khatib mengisahkan kepasrahan total Ibrahim ‘mengurbankan’ putra kesayangannya dalam rangka menjalankan perintah Allah, tak sengaja hati liar berkelana terbawa temaram bercampur aduk tertaut pada musibah banjir Wasior, Tsunami Mentawai dan Letusan Gunung Merapi yang tak kunjung henti.. Setelah menutup shalat jumat dengan salam, terngiang kata-kata khatib tentang “Kepasrahan Total”.

Entah mengapa dalam keliaran pikiran, logika saya memaknai bahwa sangat erat kaitan antara kisah Ibrahim dengan cara kita memaknai musibah yang terjadi saat ini. Pertautan itu ada pada kepatuhan akan perintah Allah dan kepasrahan akan rasa kehilangan.

Sedikit cerita tentang pengorbanan Ibrahim, bahwa hingga usia 100 tahun Ibrahim belum dikaruniai anak, dan disetiap saat beliau berdoa Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh” (Q.S 37:100). Tidak berkurang sedikitpun harapan Ibrahim untuk memperoleh keturunan. Hingga akhirnya menikahlah Ibrahim dengan Siti Hajar yang kemudian menjadi isteri kedua, setelah sekian lama pada akhirnya dari Siti Hajar dianugerahkan keturunan bernama Ismail.

Sebagaiaman orang tua pada umumnya begitu besar cinta Ibrahim akan Ismail, karena begitu lama mendambakan kehadiran seorang anak. Disaat cinta berada dalam puncak, disaat anak dalam tingkah polah yang lucu dan menawan sebagaimana anak kecil tampan yang usianya menginjak 7 tahun. Allah berkehendak lain, menguji Ibrahim dengan memberikan mimpi yang dalam mimpi tersebut terdapat firman-Nya sebagaimana dalam surat Ash Shaffaat : 102 : “Maka tatkala sampai (pada usia sanggup atau cukup) berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata : Hai anakku aku melihat dalam mimpi bahawa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu ” Ismail menjawab: “Hai bapaku kerjakanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu, Insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Atas kepatuhan terhadap perintah Tuhannya, walaupun pada dasarnya batin seorang ayah tetap berkecamuk. Perintah Allah untuk menyembelih Ibrahim dilaksanakan, dan atas kehendak Allah ketika pedang menyentuh kulit Ismail, tiba-tiba Allah tukar Ismail dengan sejenis lembu dan menjadikan Ismail tetap selamat tidak kurang suatu apapun.

Apa kaitannya kisah Ibrahim dengan musibah berupabencana alam?. Dalam kepedihan yang teramat besar saya coba menautkan bahwa baik Ibrahim maupun benturan lempeng yang berbuah gempa, banjir bandang, hingga gunung meletus adalah sebentuk kepatuhan alam terhadap RabbNya. Ibrahim adalah hamba, begitu juga lautan, sungai, gunung dan lainnya adalah hamba Allah yang terikat pada aturan menjalankan perintahNya.

Jikapun lautan, sungai, gunung diberikan kesempatan berbicara akan perasaan mereka memaknai perintah Tuhan yang dalam perjalanan perintah itu harus ada makhluk lain yang harus dikorbankan, mungkin suaranya akan sama dengan suara Ibrahim yang sangat tidak rela untuk kehilangan putranya Ismail. Begitupun Gunung Merapi, Samudera Hindia dan Sungai-sungai di Wasior yang atas sebuah perintah Allah harus melontarkan lava pijar, awan panas, lahar dingin, tsunami, banjir bandang yang pada akhirnya tidak hanya ‘mengorbankan’ manusia tapi juga mungkin jutaan ekosistem lainnya juga menjadi korban.

Maka tautkanlah fikiran kita ketika Allah pernah memberikan opsi kepada seluruh mahluknya untuk menjadi khalifah di muka bumi, yang ternyata semua makhluk menolak termasuk Gunung, lautan, dan hanya manusia yang menyatakan kesiapannya menjadi khalifah. Disinilah makna bahwa baik Ibrahim, Gunung, lautan dan sungai hanyalah makhluk Allah yang pasrah menjalankan perintah Tuhannya.

Ibrahim mengajarkan bagaimana pasrah dan ikhlas mengorbankan apa yang paling ia cintai demi Tuhannya, dan itulah esensi pengorbanan sejatinya. Samahalnya dengan saudara kita yang kehilangan harta benda, ternak dan tentunya sanak saudara, mungkin itulah ‘pengorbana besar’ yang nilai ujian, dan pahalanya sama dengan pahala kepasrahan total yang diberikan Allah kepada Ibrahim.

Allah mungkin sedang menguji kebesaran jiwa hamba-Nya yang berada di Indonesia untuk berpasrah total mengikhlaskan bagian terbesar dari apa yang dicintainya hanya untuk Tuhannya, demi sebuah kemuliaan yang akan terjadi kelak. Sapi, kerbau, unta hanyalah symbol ritual ibadah Qurban, yang substansi berkurban itu sedang Allah tampakan saat ini melalui musibah. Berkurban hewan mulia kadarnya, namun memaknai musibah dan kehilangan apa yang paling kita cintai mungkin itulah esensi qurban sejatinya, dimana kelak dengan kepasrahan total dan keikhlasan, Allah yang memuliakan hambanya yang terkena musibah sebagaimana kemuliaan yang diberikan Allah kepada Ibrahim. ***



Tulisan ini hanyalah sebentuk kekecilan hati dan kepedihan karena keterbatasan untuk bisa berbuat, membantu hamba Allah yang lain yang sedang diuji musibah. Sebentuk doa tidak henti tertutur agar Allah mengaugerahkan kesabaran Hamba-Nya yang dilanda musibah agar mampu sekuat, sepasrah dan seikhlas Ibrahim.



Kirimkan teman lain ingin ikut membaca juga. Terimakasih

0 komentar:

Poskan Komentar